Bertepuk sebelah tangan
Cinta bertepuk sebelah tangan? Huft, menyebalkan!!
“Ren, Rena!” Dengan gerakan refleks gadis bernama Rena itu menoleh ke arah datangnya suara yang memanggil namanya, dan lagi-lagi pria itu, pria yang sudah 1 bulan ini mengisi pikiran dan hatinya, pria yang ia sukai namun tak mampu untuk diungkapkan, Rizky.
“Rizky? Ada apa?” Pria itu terlihat sibuk mengatur nafasnya yang terengah-engah, karena pria itu baru saja berlari mencari Rena di seluruh penjuru sekolah.
“Kau akan pulang?” Rena hanya mengangguk mengiyakan, terlihat sekali ekspresi kebingungan dari air mukanya. Rizky mulai bisa mengatur nafasnya lalu menarik senyum tipis “apa kau terburu-buru untuk pulang? Rencananya anak-anak akan berkumpul di rumah Beby, apakah kau bisa ikut?” Kini raut wajahnya mengekspresikan bahwa ia benar-benar ingin Rena untuk ikut bersamanya.
“Baiklah aku akan ikut” terpancar jelas bahwa pria itu senang jika Rena ikut bersamanya.
Rena’s view
Oh god kenapa harus begini? Kenapa hatiku selalu menjadi tak karuan saat harus berhadapan dengan pria ini? Aku mencoba mengatur intonasi suaraku agar tidak terdengar bahwa aku merasakan sesuatu yang berbeda dengannya, seperti sebuah tarikan yang memaksaku untuk merasa suatu hal yang ada di dalam hatiku.
Kini aku berada di belakangnya, menaiki sepedah motor kesayangannya menuju rumah sahabat kami Beby, ya kami. Aku, Rizky, Beby, Rania, Alisia, Aldrian, Reza, Raisa, Kevin dan Yoga.
Kami hanya membisu di atas motor, tak ada sepatah kata pun yang kami keluarkan. Dari tadi aku hanya memperhatikan Rizky dari belakang, menyimpan rasa kagum padanya, tidak berani mengeluarkan kata-kata apapun. God, aku menyayanginya, aku menginkan pria itu sangat. Terlintas di pikiranku tanpa sadar, teringat senyumannya yang sangat mempesona, keramahannya, ketampanannya, ketawanya yang khas dan tak akan terlupakan oleh siapapun, dan perhatiannya padaku yang membuat aku semakin jatuh hati padanya.
“Rena, kita sudah sampai” suaranya membuyarkan lamunanku tentang dia, mambuatku terlonjak kaget dan sedikit salah tingkah, lalu dengan cepat aku turun dari motor membuatku hampir saja terjatuh dan kakiku terkilir. “Rena kau tidak apa-apa?” Aku menggeleng sambil terus memegangi kakiku yang terkelir, meringis kesakitan, lalu dengan cepat ia berjongkok melihat keadaan kakiku “kau bilang tidak apa-apa? Kakimu terkilir Rena”
“Sudahlah aku tidak apa-apa, hanya sedikit sakit”
“Kau pasti berbohong kan?” Aku hanya menggeleng, menutupi rasa sakitku agar pria itu tidak khawatir padaku. “Aku tau kau berbohong, kau pasti tidak ingin aku khawatir, Sudahlah jangan sungkan padaku, aku ini sahabatmu kan?”
“Tapi kan” dengan cepat Rizky menarikku dalam pelukannya memopohku untuk masuk ke dalam rumah. Sial! Makiku dalam hati mengutuk diriku yang begitu ceroboh hingga melukai kakiku sendiri, dan mengutuk diriku karena tidak bisa mengatur deru jantungku.
“Rena, kau tidak apa-apa?” Suara Raisa menyambutku dan Rizky ketika kami baru membuka pinti, aku hanya menggeleng, dan duduk di kursi sebelah Yoga dengan masih di bantu oleh Rizky.
“Kakinya terkilir. by, apa ada orang yang bisa menyembuhkan kaki Rena?” Ucap Rizky pada Beby.
“Hmmm, pembantu ku bisa” aku langsung menoleh ke arah Beby, tidak! aku tidak mau di pijat itu pasti sangat sakit, tidak! Tidak!.
“Tidak! Aku tidak mau di pijat itu pasti sakit, tidak mau!” Seperti anak keci aku merengek tak karuan, lalu aku melihat dengan jelas Rizky mendekatiku berjongkok dan membisikkan sesuatu yang membuatku sedikit tenang.
“Hey! Aku ada di sini, aku akan menjagamu, jangan khawatir” bisiknya padaku.
“Kau bisa memastikan bahwa aku akan baik-baik saja?”
“Tenang, aku akan di sampingmu, aku akan menggenggam tanganmu agar semua tidak akan terasa sakit”
“Sungguh? Terimakasih” dia hanya mengangguk dan menarik senyum kecil, membuatku sedikit tenang.
Author’s view
“Aaaarrrgh” jeritan seorang gadis terdengar sangat keras sekali, begitu memekikan telinga.
“Sudah tahan sedikit, lama-lama juga tak akan terasa sakit” Yoga ikut berteriak mencoba mengalahkan suara jeritan Rena.
“Iya, nanti juga akan terasa enak, jika sudah hilang rasa sakitnya” aldryan tak kalah teriak.
“Nah sudah selesai nona, bagaimana? Coba digerakkan” Rena mencoba menggerakkan kakinya yang terkilir. Kakinya baru saja dipijat.
“Sudah tidak sakit, terimakasih”
“Baiklah kalau begitu saya mau pamit untuk kembali bekerja, permisi”
“Bagaimana? Sudah tidak sakit?” Tanya Rizky yang sedari tadi berada di samping Rena, memegang tangannya erat.
“Tidak sudah terasa enak” seketika Rena melihat bekas cakaran pada tangan Rizky. “Rizky, tanganmu! Aku benar-benar minta maaf”
“Aku tidak apa-apa, yang penting bagiku kau segera sembuh”
“Benarkah itu? Terimakasih” gadis itu menyunggingkan senyum kecil dan manis.
“Hey ada apa ini mengapa terdengar ribut sekali?” Kevin yang baru saja datang membeli makanan bersama alisia langsung menghempaskan tubuhnya di sebelah Raisa.
“Ada yang baru saja kakinya di pijat karena terkilir” sahut Reza, matanya melirik kecil pada Rena.
“Kau sih ceroboh” Alisia menoyor kepala Rena. Sedangkan Rena hanya memajukan bibirnya kesal.
Rena’s view
“Apakah cinta memang tidak harus memiliki? Apakah benar bahwa aku yang bodoh? Bodoh karena hanya melihat pada satu arah, pada cinta yang tak akan pernah bisa untuk ku gapai.
Ini sangat tidak adil! Mengapa hanya aku yang memperjuangkan cinta ini? Mengapa hanya aku yang harus menanggung luka disaat aku harus melihatmu bermesraan dengan wanita lain.
Dan mengapa kau selalu memberikan perhatian-perhatian lebih padaku sementara itu yang selalu membuatku merasakan kembali sebuah rasa yang tak akan pernah terbalas. ” Kini aku telah kembali menutup buku diaryku. Menulis adalah salah satu cara agar aku bisa menumpahkan segala isi hatiku, menulis sudah menjadi sebagian rutinitas harianku, dengan menulis aku selalu merasa seluruh beban dalam hatiku telah pergi jauh tenggelam dalam kata demi kata. ”
“Rena” aku melihat jelas bahwa Rizky berlari ke arahku penuh semangat, terlihat senyum lebar dari bibirnya.
“Rizky, ada apa?”
“Aku punya kabar gembira!”
“Oh ya apa?”
“Kemarin malam aku resmi berpacaran dengan Beby!” Cara bicaranya terlihat penuh semangat dan memancarkan bahwa dia sangat bahagia. Sedangkan kini hatiku hancur menjadi beberapa bagian, merasakan luka itu semakin besar, semakin perih dan sakit.
“Oh ya? Selamat” god, bagaimana ini? Aku sudah tak tahan lagi hatiku hancur, aku benci pada hidupku ini! “Mmm, Riz sorry gue harus pulang, gue… gue buru-buru, bye” aku berlari sekencang mungkin menyetop taksi lalu pergi meninggalkan Rizky sendiri, yang tampak bingung dengan sikapku.
“Kriiiing”
“Rania? Ada apa?”
“Kau sudah tau bahwa Beby dan…”
“Aku sudah tau”
“Baguslah, kalau begitu nanti malam kau akan datang kan? Mereka akan mengadakan party di rumah Beby”
“Entahlah mungkin tidak” ya mungkin aku tidak usah datang jika aku tak ingin semakin terluka.
“Aku harus mengantar mom-ku ke acara pesta sahabatnya, sampaikan salamku pada mereka, maaf aku tak bisa datang”
“Sayang sekali, baiklah akan aku sampaikan, bye”
“Bye, have fun with you’r party”
“Okeey honey”
Baiklah ini keputusan yang bagus, aku akan terus berada di kamar ini! Aku kembali mengambil diary, kembali menuliskan segala bentuk perasaanku.
“Sekarang semuanya telah terjawab. Cinta memang tak harus memiliki, cinta juga tak akan pernah bisa untuk dipaksakan semuanya harus mengalir dengan apa adanya dari dalam hati. Sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa memiliki hatinya, dan sampai kapanpun aku akan selalu menjadi sahabat terbaiknya, tak akan menjadi seseorang yang spesial dalam hidupnya.
Ternyata memang hanya aku yang harus berjuang mempertahankan cinta yang aku miliki, ternyata hanya aku yang harus merasakan luka ini. Sekarang aku harus mulai terbiasa dengan melihat kamu bersamanya setiap waktu.
Dan kini aku harus mulai merelakan kamu pergi bersamanya, karena aku tau bahwa cinta ini hanya cinta semu yang bertepuk sebelah tangan”
Seperti bintang-bintang
Hilang ditelan malam
Bagai harus melangkah
Tanpa kutahu arah
Aku duduk di beranda taman itu, menunggu senja menjemput. Menunggu sesosok lelaki yang aku harapkan. Lelaki yang akhir-akhir ini sedikit menjaga jarak dariku. Aku bingung, kenapa dia seperti itu? Apa aku ada salah dengannya? Hingga ia menjaga jarak dariku? Aku tak tau.
Aku masih terduduk disana menatap langit yang sudah senja, dan mulai berganti bintang-bintang. Kau masih belum datang? Ataukah kamu tak ingat, ini anniversary kita? Tiba-tiba aku merasakan dekapan yang mendekap kedua bola mataku. Apa ini dia?
“Ini siapa?” Tangan itu, mulai merenggang dan melepaskan mataku. Perlahan, aku membuka kelopak mata dan kutatap sosok itu. Sosok yang amat ku harapkan untuk datang. Fahmi Ammar.
“Fahmi?” Fahmi mengangguk tangannya terulur di hadapanku. Tangan itu menggenggam erat telapak tanganku. Membawaku pergi dari tempat itu. Ia membukakan pintu mobil untukku. Ia duduk di sampingku. Terasa hangat dan begitu hangat. “Kita mau kemana?” Ia menolehkan wajah coolnya ke hadapanku. Aku bisa menatap mata elang yang indah itu.
“Kamu lupa atau pura-pura lupa? Ini Anniversary kita yang ke 3 kan?”
“Iya. Aku juga tau. Tapi kan,” Aku menundukkan wajahku menatap lantai mobil itu. “Tapi, kan akhir-akhir ini kamu jauh sama aku.” Satu tetes air mata, terjatuh dari pelupuk mataku. Dan Fahmi menghentikan laju mobilnya. Mengusap air mataku dan mendongakkan kepalaku.
“Maaf, aku sedang sibuk dengan proyek yang sedang aku kerjakan.”
“Ya sudah. Aku ngerti kok. Pekerjaan lebih penting buat masa depan kamu.” Rasanya begitu sakit untuk melontarkan kata-kata itu di hadapannya. Aku ingin marah padanya tapi semua itu tak bisa. Karena rasa cinta ini bisa mengalahkan segalanya.
“Baguslah kalau kamu tau itu. Sebagai gantinya aku akan mengajakmu ke sebuah tempat.”
“Kemana?”
Fahmi tak menjawab. Ia mengegas mobilnya kembali sedangkan aku hanya menatap jalanan yang ada di sekelilingku. Tak beberapa lama kemudian, Ia menghentikan laju mobilnya di sebuah tempat yang banyak kelap kelip cahaya lampu di sekitarnya.
“Pasar malem Mi?”
“Hmm.. suka gak? Aku beliin harum manis dulu ya! kamu disini aja.” Aku hanya mengannguk. Kemudian duduk di kursi dekat penjual batagor. Fahmi melangkahkan kakinya menuju penjual harum manis itu. Ia membeli 1 harum manis kemudian berbalik ke arahku.
“Ini buat kamu, Rin!”
“Thanks.”
—
Malam ini aku merasakan kebahagiaan itu datang kembali. Terima kasih tuhan. Fahmi mengajakku ke suatu tempat lagi. Yang aku pun belum tahu. Angin malam itu membelai rambutku yang tergerai. Aku mulai merasa hawa dingin itu merasuk tubuh. Fahmi melepas jaket yang membaluti tubuhnya.
“Pakai ini. Sebentar lagi kita sampai.” Aku hanya mengangguk dan memakai jaket itu. Tak beberapa lama kemudian, Mobil Fahmi berhenti di sebuah cafe tempat pertama aku dan dia bertemu. Aku dan Fahmi masuk ke dalam cafe itu. Duduk di bangku yang sama seperti dahulu. Memutar kenangan yang begitu indah 3 tahun yang lalu.
“Kenapa kita kesini lagi?”
“Aku ingin berbicara sesuatu sama kamu.”
“Tentang apa?” Fahmi menggenggam jemariku. Menatapku penuh arti. Sebenarnnya apa yang akan terjadi?
“Aku harus pergi.”
Saat terindah saat bersamamu
Begitu lelapnya aku pun terbuai
Sebenarnya aku tlah berharap
Ku kan memiliki dirimu selamanya
Kenapa dia berkata seperti itu? Kenapa dia harus pergi sekarang? Di tengah Anniversarry kita yang ke-3? Kini aku benar-benar memuntahkan seluruh air mata yang sedari tadi sudah aku tahan.
Segenap hatiku luluh lantah
Mengiringi dukaku yang kehilangan dirimu
Sungguh ku tak mampu tuk meredam
Kepedihan hatiku untuk merelakan kepergianmu
Ingin kuyakini cinta takkan berakhir
Namun takdir menuliskan
Kita harus berakhir
Fahmi mendongakkan kepalaku. Menghapus air mata yang membasahi pipi.
“Jangan menangis. Kita masih bisa menjalani hubungan ini.”
“Dengan jarak dan waktu yang memisahkan kita?” Fahmi mengangguk sedangkan aku? Aku hanya menahan kepedihan di dalam hati. Merelakan kepergianmu.
“Tapi, itu sangatlah sulit Mi.”
“I’m sure we can be strong to live this long distance relationship.”
—
Lepaskan aku dari
Derita tak bertepi
Saat kau tak disini
Seperti dedaunan
Berjatuhan di taman
Bagaikan debur ombak
Mampu pecahkan karang
Lepaskan aku dari
Derita tak berakhir
Saat kau tak ada disini
Hembusan angin pagi hari ini mengawali semuanya. Mengawali hubungan Long Distance Relationshipku dengan Fahmi. Entah nanti aku akan kuat atau tidak dengan hubungan ini. Aku mengendarai sepeda motorku yang sudah lama tak terpakai untuk berangkat kuliah. Tak beberapa lama kemudian, aku sudah sampai di depan kampusku. Aku langsung di sambut oleh sahabat-sahabat yang selalu ada di sampingku.
“Kamu gak bareng sama Fahmi?” Tanya Rio salah satu sahabatku.
“Tidak.”
“Kalian ada masalah?” Aku hanya menggeleng.
“Arina, please cerita sama kita.” pinta Alyssa. Aku duduk di kursi depan kelas kedokteran.
“Kita sekarang pisah.”
“Maksudnya? Kalian putus?”
“Tidak. Ia sekarang harus bekerja di luar pulau Jawa.” Alyssa menepuk pungggungku. “Kamu yang sabar ya! aku yakin kalian pasti bisa menjalani ini semua.”
Aku memeluk tubuh Alyssa. “Thanks. Kalian memang sahabat-sahabat terbaikku.” Aku, Alyssa, dan Rio berjalan menyusuri koridor menuju kelas kami di fakultas designer. Sebelum sempat sampai sana, Aku merasakan getaran yang berasal dari dalam tas. Aku mengambil handphoneku. Melihat nama yang tertera disana. Senyum bibirku mengembang. Aku berjalan menjauh dari Rio dan Alyssa.
“Halo. Mi.”
“Hai, Rin. Baru sampe kampus ya?”
“Hmmm, Kamu udah sampe disana?”
“Ini baru sampai.”
“Sukses ya disana. Jangan pernah lupain aku.”
“Pasti. Aku akan sering-sering hubungi kamu baik lewat telepon, sms, atau Sosmed.”
“Thanks. Sudah dulu ya! aku udah mau ada kelas. Kamu jangan lupa istirahat. Jaga kondisi jangan sampai maag akutmu itu kambuh.”
“Iya. Love you”
“Love, you too”
Aku menutup ponselku dan berbalik ke arah Alyssa dan Rio.
“Pasti, Fahmi yang menelepon?” tanya Rio. Aku hanya mengangguk. “Aku yakin kalian berdua pasti bisa menjalani hubungan ini.”
—
Malam ini, aku terduduk di balkon kamarku. Menatap langit bertabur bintang-bintang. Menghitung setiap bintang-bintang yang ada. Menatap layar ponsel yang hampa.
TING
Ponselku berbunyi dan layarnya menyala terang tanda ada pemberitahuan dari sosial media. Sosial media Line. Aku langsung membuka pemberitahuan itu. Dan pemberitahuan itu membuatku mengembangkan senyum.
Fahmi Ammar
Miss you :’)
Arina Sabilla
Miss you too.
Fahmi Ammar
Belum tidur?
Arina Sabilla
Belum kamu?
Fahmi Ammar
Belum juga. Aku kangen suaramu. Gimana kalau kita nyanyi duet?
Arina Sabilla
Boleh. Tapi lagu apa?
Fahmi Ammar
The Story Of Us- Taylor Swift. Ok?
Arina Sabilla.
I used to think one day we’d tell the story of us,
How we met and the sparks flew instantly,
People would say they’re the lucky ones.
I used to know my place was a spot next to you,
Now I’m searching the room for an empty seat,
‘Cause lately I don’t even know what page you’re on.
Oh, a simple complication,
Miscommunications lead to fall-out.
So many things that I wished you knew,
So many walls that I can’t break through.
Fahmi Ammar
Now I’m standing alone in a crowded room and we’re not speaking,
And I’m dying to know is it killing you like it’s killing me, yeah?
I don’t know what to say, since the twist of fate when it all broke down,
And the story of us looks a lot like a tragedy now.
Next chapter.
How’d we end up this way?
See me nervously pulling at my clothes and trying to look busy,
And you’re doing your best to avoid me.
I started to think one day I’d tell the story of us,
How I was losing my mind when I saw you here,
But you held your pride like you should’ve held me.
Oh, I’m scared to see the ending,
Why are we pretending this is nothing?
I’d tell you I miss you but I don’t know how,
I’ve never heard silence quite this loud.
Arina Sabilla
Now I’m standing alone in a crowded room and we’re not speaking,
And I’m dying to know is it killing you like it’s killing me, yeah?
I don’t know what to say, since the twist of fate when it all broke down,
And the story of us looks a lot like a tragedy now.
This is looking like a contest,
Of who can act like the careless,
But I liked it better when you were on my side.
The battle’s in your hands now,
But I would lay my armor down
If you said you’d rather love than fight.
So many things that you wished I knew,
But the story of us might be ending soon.
Fahmi Ammar
Now I’m standing alone in a crowded room and we’re not speaking,
And I’m dying to know is it killing you like it’s killing me, yeah?
I don’t know what to say, since the twist of fate when it all broke down,
And the story of us looks a lot like a tragedy now, now, now.
And we’re not speaking,
And I’m dying to know is it killing you like it’s killing me, yeah?
I don’t know what to say, since the twist of fate ’cause we’re going down,
And the story of us looks a lot like a tragedy now.
The end.
Arina Sabilla
This Beautiful song! :)
Fahmi Ammar
Yes this is. Udah malem nih. Good night! Have a nice dream :)
Arina Sabilla
Have a nice dream too.
OFF
Aku menutup ponselku. Kemudian menutup pintu balkon kamar. Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang dan menelungkup di balik selimut yang tebal.
“Good night Fahmi. Have a nice dream. Semoga hubungan kita akan berjalan sebahagia ini.”
—
Saat kau tak ada
Atau kau tak disini
Terpenjara sepi
Kunikmati sendiri
Tak terhitung waktu
Tuk melupakanmu
Aku tak pernah bisa
2 tahun telah berlalu, kini aku telah selesai kuliah tinggal menunggu wisuda. Dan selama itu pula aku menjalani hubungan long distance relationship dengan Fahmi. Tak pernah melihat wajah Fahmi secara langsung selama itu. Sebenarnya aku merasa tersiksa. Tapi mau bagaimana lagi? Demi cinta ini aku mau menjalankannya. Ditambah lagi akhir-akhir ini Fahmi tak pernah menghubungiku.
Iseng-iseng aku ngestalk akun instagram Fahmi. Foto-foto terbaru Fahmi sudah terpampang disana. Pemandangan, suasana desa, dan Apa ini? Foto Cakka dengan wanita lain. Memang wanita ini lebih cantik dari pada aku. Tapi, apa memang Fahmi telah melepaskan hubungan denganku?
Aku ingin menangis, aku ingin teriak, aku ingin marah!. Buliran air mataku menetes satu persatu. Tanpa berfikir panjang, aku mengambil koper besarku dan memasukkan beberapa pakaian disana. Menyetop sebuah taxi untuk mengantarkanku ke Bandara.
Beberapa jam aku menaiki pesaawat ini, akhirnya aku sampai di pulau sulawesi. Aku melanjutkan perjalananku menuju taman laut bunaken. Ya, Fahmi bekerja sebagai pelestari keanekaragaman di indonesia. Sesampainya disana? Apa yang aku lihat? Koper yang ku pegang jatuh ke lantai sehingga membuat suara dentuman yang sedikit keras. Air mataku mengalir begitu deras. Aku tak percaya dengan semua ini!
“Arina Sabilla?” Ucap Fahmi sambil menoleh ke arahku. Aku membalikkan tubuhku dan berlari tak tentu arah. Fahmi mengejarku dari belakang. Tangan Fahmi mencengkeram tanganku di ujung dermaga itu. Aku masih tak mau menatapnya.
“Arina Maafkan aku.” Dia hanya minta maaf? Sedangkan aku merasa perih?
“Jadi semua itu benar? Kalau benar buat apa aku menahan penyiksaan hubungan LDR denganmu sedangkan kamu sendiri mencari penggantiku? Apa maksudnya?” Ucapku sembari terisak.
“Maafkan aku telah membuatmu terluka. Beri kesempatan sekali lagi agar aku bisa kembali di sampingmu.”
“Itu tak perlu, Aku sudah terlalu sakit. 2 tahun Kka, bayangkan betapa tersiksanya aku sedangkan sekarang kamu hanya meminta maaf? Lebih baik aku MATI sekarang dari pada harus menahan ini semua dan melanjutkan hubungan kita.”
“Arina! jangan berkata seperti itu” Aku melepaskan cengkraman Fahmi dan berlari ke ujung dermaga itu. Mungkin ini semua harus berakhir. Selamat tinggal semua! Mungkin ketika aku pergi semuanya akan menjadi lebih baik.
Langganan:
Postingan (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar